Rabu, 30 September 2015

Si Berut

Suatu hari di tepi sungai, seperti biasanya Berut memancing ikan dengan kail pusaka titipan almarhum ayahnya. Berut meyakini kail itu adalah kail sakti mandraguna yang tiada duanya di bumi ini. Sewaktu ayahnya masih hidup kail itu merupakan alat utama menghidupi keluarganya. Semenjak ayahnya meninggal maka Berutlah yang melanjutkan perjuangan ayahnya menghidupi keluargnya, yaitu ibu dan adik perempuannya. Oleh karena itu Berut yakin, dengan kail peninggalan ayahnya ia mampu menafkahi keluarganya. 

Selang beberapa waktu semenjak umpan dilemparkn ke sungai, Berut merasa kailnya telah disambar oleh seekor ikan, dan ia yakin ikan ini sangat besar. Karena begitu keras dan kuat tarikan kailnya. Tanpa berpikir lama lagi segera Berut menarik kailnya kepermukaan untuk melihat hasil tangkapan kail sakti mandragun tersebut. Dan benar saja, seekor ikan mas berukuran besar telah melekat dikail Berut. Begitu bangganya berut hari itu.  Sambil tersenyum, dalam hati ia berkata, "memang kail ini sakti mandaraguna".

Setelah berhasil melepaskan mulut ikan dari mata kailnya segera Berut memasukkan ikan itu kedalam kampia yaitu sejenis tas yang dianyam dari daun pandan. Dalam hati ia bergumam.
"Satu ikan besar ini sepertinya cukup untuk makan dua hari ke depan. Sebaiknya aku pulang saja".
Akhirnya Berut pun pulang dengan membawa hasil tangkapannya berupa seekor ikan mas besar. Ia yakin pastilah ibu dan adiknya sangat senang dengan hasil tangkapannya hari ini. Dalam perjalanan menuju rumah tiba-tiba berut dikagetkan oleh suara orang yang memanggil-manggil. Suara itu semakin jelas terdengar dan semakin keras. Tiba-tiba ikan yang ada dalam tasnya itu menggelepar dan keluar dari tasnya. Ikan itu terus menggelepar hingga ke tanah.

Setelah diamatinya secara cermat ternyata suara yang tadi ia dengar adalah suara ikan hasil tangkapannya itu. Tentu saja hal itu membuat Berut ketakutan. 

Read More

Kamis, 24 September 2015

Qurban Sebagai Bukti Ketaqwaan Kepada Allah dan Kecintaan
Kepada Sesama Muslim

Siapapun hamba Allah di muka bumi ini tentu tahu dengan kisah Nabi Ibrahim AS. Yaitu sebuah kisah pengorbanan yang luar biasa demi ketaqwaannya kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim merupakan rasul Allah yang mana beliau dikenal dengan sebutan al-khalil (Kekasih Allah) adalah salah satu rasul ulul azmi. Yaitu Rasul yang mendapatkan keistimewaan berupa mukjizat sebagai bukti akan kerasulannya. Ibrahim adalah sosok yang menjadi ikon utama dalam momentum sejarah umat Islam. Dimulai dari proses pencarian Tuhan yang Maha Esa, penyebaran keyakinan untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, prosesi pembangunan ka’bah, sampai dengan terciptanya ibadah haji dan hari raya idul adha. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang dermawan yang juga pernah berkurban dengan 1000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Sampai-sampai malaikat pun kagum kepadanya. Pernah ia berkata’ “kurban sebanyak itu belum lah apa-apa, demi Allah bila aku punya anak lelaki, dan Allah menghendakinya untuk dikorbankan, maka akan aku korbankan sebagai bukti ketaatanku kepada Allah”.
            Akhirnya Nabi Ibrahim AS dikaruniai Allah SWT seorang putera melalui rahim istrinya Siti Hajar. Anak tersebut diberi nama Ismail. Hingga Allah memerintahkan untuk menyemblih anaknya tersebut melalui mimpi yang ia terima sebanyak tiga kali berturut-turut. Disinilah keimanan Nabi Ibrahim diuji. Setelah sekian lama menunggu seorang anak, kemudian mendapat perintah untuk menyemblihnya, merupakan ujian yang berat baginya. Namun karena ketaqwaannya kepada Allah melebihi kecintaannya kepada anaknya, maka dilaksanakanlah perintah Allah tersebut. Karena melihat kesungguhannya melaksanakan perintah Allah, maka Allah mengganti Ismail dengan seekor kibas/domba. Maka domba itulah pada akhirnya disemblih oleh Nabi Ibrahim. Maka dari sanalah awal mula ibadah qurban bagi umat muslim di seluruh dunia.
         Dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwasanya untuk menjadi seorang yang memiliki predikat taqwa di sisi Allah memang memerlukan pengorbanan yang tinggi. Keikhlasan serta kesabaran adalah dua hal yang menjadi pegangan oleh Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah. Sebagai hamba Allah yang beriman, maka tentulah kita juga ingin mendapat predikat taqwa di sisi Allah. Anjuran berqurban bagi yang telah mampu melaksanakannya adalah jalan untuk menuju ketaqwaaan kepada Allah. Tentunya dengan niat yang tulus dan hati yang ikhlas lah maka akan diterimanya oleh Allah niat kita dalam berqurban.
           Ibadah qurban yang dilaksanakan sekali dalam setahun merupakan momentum yang sangat tepat dalam merajut kembali ukhuwah islamiyah. Setiap muslim dari segala penjuru dunia berlomba=lomba untuk melaksanakan ibadah yang satu ini. Qurban selain untuk menggapai ridha dan ketaqwaan di sisi Allah, juga sebagai ajang untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu. Bagi mereka yang kurang mampu menerima pembagian daging qurban adalah hal yang sangat luar biasa. Tentunya agar ibadah qurban ini bernilai faedah maka pelaksanaannyapun haruslah tepat sasaran. Dalam hal ini daging qurban lebih utama diberikan kepada mereka yang memang kurang mampu.
           Berbagi kepada sesama muslim terutama kepada mereka yang membutuhkan bukan hanya pada saat Hari Raya qurban saja. Momentum ini harus dimaknai dengan sungguh-sungguh bahwa setiap muslim harus rela berkorban dan berbagi sedikit rezkinya kepada yang membutuhkan di luar Hari Raya Qurban. Setiap muslim harus menyadari bahwa harta yang dititpkan oleh Allah kepadanya sebagiannya adalah hak orang lain. Untuk itu setiap muslim haruslah mau  berinfaq dan shadakah di jalan Allah.
             Kemudian sikap dermawan dan kezuhudan Nabi Ibrahim haruslah menjadi contoh bagi kita selaku umat muslim. Seberapa pun berlimpahnya harta dan kekayaan kita, tetaplah kita tidak terbuai dan tergoda olehnya. Karena harta, pangkat, dan jabatan adalah amanah Allah yang harus kita pertanggungjawabkan nantinya. Maka agar harta yang dititpkan Allah kepada kita menjadi barokah, hendaklah kita mau berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.  
            Semoga Idul adha kali ini mengantarkan kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa di sisi-Nya. 

Qurban Sebagai Bukti Ketaqwaan Kepada Allah dan Kecintaan Kepada Sesama Muslim

Read More

Rabu, 23 September 2015


Pengurus HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Periode 2013-2014

Read More


Kebun Teh Solok

Read More


Para Pengurus BEM UNP 45

Read More

Add caption

Salam Perjuangan

Read More


Presma dan Wapresma BEM UNP PEriode 2014-2015

Read More

Copyright © 2015 diaro | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top